Mencari Indonesia di layar generasi Muda
Sabtu, 13 mei 2017.
Hari ini saya bersama
kawan saya bung sonywilson, menyempatkan hadir dalam acara diskusi yang diadakan
aliansi pelajar Surabaya di warung mbah cokro dengan judul “MENCARI INDONESIA
Di layar Generasi Muda. Oh ya ! tentang aliansi pelajar surabaya sendiri,
silahkan kawan-kawan browsing, saya jamin kawan-kawan akan terpukau khususnya
MAHAsiswa. Lanjut lagi, hari ini saya merasa MALU sekaligus SENANG, SEMANGAT. Betapa
tidak, yang menghadiri acara diskusi itu adalah anak-anak SMA, bahkan ada
beberapa anak SMP. Saya sungguh terpukau sekaligus terbelalak melihat keadaan
itu. Mungkin kami golongan siswa yang katanya MAHA itu, kalah jumlah dengan
mereka, sangat miris kawan, miris.
Di malam minggu itu, anak-anak seusia mereka malah bergelut
dengan pikiran dan gagasannya mengenai kebangsaan. Sungguh luar biasa ! saya
berpikir teman-teman saya yang katanya golongan siswa yang MAHA ini lagi
ngapain ya? Ah! Positif thinking lah, mungkin sibuk dengan urusan-urusann yang
pastinya “produktif”, atau menghibur diri ke mall, nonton bioskop, makan-makan
dalam rangka melepas penat setelah seminggu beraktifitas, kuliah. Ah ! sungguh
kasian kami.
“MALU SAYA. MALU”
kalau saya ingat-ingat saat SMP, aktivitas saya apa ya. Mungkin
main PS, warnet, “galau”in cewek. Serta hal-hal
lainnya yang bisa membuat saya happy, dan mendapat pengakuan terhadap “eksistensi”
saya pribadi. SMA juga ngapain ya, kurang lebih sama sih. Happy-happy aja. Yah begitulah
masa pertumbuhan saya, hahaha !
balik lagi, saat itu ada 2 pembicara, saya lupa siapa
namanya. Tapi saya berterimakasih kepada bapak-bapak sudah mau membakar
semangat saya lagi. Ada 1 pembicara muda, dia mengeluarkan sebuah pernyataan
dari seorang sastrawan atau filsuf, lupa saya, begini pernyataanya “ orang yang
menemukan itu jauh lebih berbahaya daripada orang yang mencari”, lalu dia
lemparkan pernyataan itu kepada forum dan bertanya “ Kenapa?” ada beberapa
kawan yang menjawab. Ada yang punya pendapat bahwa kalau sudah menemukan berarti
sudah, selesai sudah, tidak ada tujuan lagi (mungkin maksudnya hidup jadi
meaningless), dan beberapa jawaban lainnya. Pembicara pun mengatakan bahwa
orang yang menemukan itu cenderung bersifat otoriter, karena sudah merasa puas,
sudah merasa temuannya itu yang paling benar, ideal. Di analogikannya begini
kalau kawan hari ini sudah menemukan jodoh, bukan berarti kawan-kawan yang lain
pada saat itu, hari itu, harus menemukan jodoh juga. Pikir saya, benar. Karena setiap
orang mempunyai cara yang unik dalam berproses, dalam mencari “jawaban itu”.
Nah ! setelah itu saya reflesikan ke kampus tercinta saya,
nyatanya sangat sedikit mencari jawaban itu, banyak kawan-kawan saya yang
apatis khususnya dalam hal “kebangsaan” ini. Bagaimana mau “menemukan”, wong “mencari”
aja ngga. Sangat lucu sekaligus miris. Yah itu lah “saya, kamu, kami”
MAHAsiswa. Lalu, pikiran ini saya lempar ke forum, jawabannya sudah saya bisa
tebak dan ternyata benar. “SISTEM”. Solusinya, adalah membuat sistem yang baik
agar proses “mencari” itu terpantik. Rasa gelisah di analogikan dengan “api”
lalu sistem adalah “minyak tanahnya” yang akan membuat api itu berkobar dengan
besarnya. Dengan begitu, saya yakin dan percaya setiap kawan saya akan “mencari”.
Bagaimana kampus seharusnya dikondisikan seperti itu, bukan hanya sekedar
mengejar materi, contohnya ya seperti saya fakultas hukum, diberi tips
bagaimana membuat surat gugatan yang apik, bagus, supaya dapet klien yang
banyak, dan hal2 yang berbau materi. Bukannya saya munafik, siapa yang ga butuh
uang ? ga ada saya yakin. Tapi kalau apa-apa ukurannya materi gimana mau maju
bangsa ini, wong yang dipikirannya gimana cara jadi orang kaya, bukan gimana
bikin Indonesia ini jadi negara yang maju. Materi itu penting, tapi menurut
saya bukan yang terpenting. Banyak hal yang seharusnya kita sadar, masih banyak
orang yang butuh pertolongan kita sebagai kaum intelektual, MAHAsiswa. Banyak,
anak yang kelaparan, ga bisa sekolah, orang miskin, dan lain-lain. Saya kira
itu, sistem di kampus tidak berusaha atau tidak mengkondisikan mahasiswa “mencari”
apa itu MANUSIA.
Ayo kawan ! SADAR SADAR SADAR !
.
.
Sebenarnya mau nyinggung AHOK juga, bserta jajarannya yang
menghidupkan lilin juga, Cuma ya kapan-kapan aja deh. Capek. heheheMen
Komentar
Posting Komentar